Tampilkan postingan dengan label EKONOMI KOPERASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EKONOMI KOPERASI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2015

MASALAH ASAP KARENA KEBAKARAN HUTAN DI RIAU DAN SEKITARNYa



Perusahaan perkebunan yang berada di  Riau, diminta ikut mendukung pemadaman kebakaran lahan. Ini agar musibah asap cepat teratasi.

Selama musibah kebakaran hutan di riau. mereka dengan 30 perusahaan khususnya perkebunan yang ada di kabupaten  Pelalawan pada Agustus 2015 bulan kemaren. Kerjasama  bagaimana mengantisipasi jika ada kebakaran hutan dan lahan. Sejauh ini mereka sudah melaksanakan Standar Operating Procedure (SOP)menurut  Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten pelalawan.

bentuk kerjasama yang dilakukan adalah dengan mempersiapkan  kelompok  khusus pemadaman kebakaran dan menyiapakan peralatan sesuai dengan  yang sudah ditetapkan oleh peraturan dan perundang-undangan.

Kebakaran masih terjadi di riau karena kondisi lahan di Pelalawan lahan gambut, jadi mudah terbakar. Perusahaan diwajibkan melakukan pemantauan di area nya. Perusahaan juga diwajibkan membantu pemadaman jika ada lahan mereka yang terbakar. Sampai sekarang sudah dilakukan oleh perusahaan untuk menyediakan peralatan pemadamam kebakaran dan personil juga. Saat ini perusahaan menjalin kerja sama dengan ada 170 personil TNI dan Polri untuk melakukan pencegahan dini kebakaran dan melakukan pemadaman bersama jika ada lahan yang terbakar.

bencana kebakaran yang melanda sebagian lahan perkebunan sawit di Indonesia  ,ini telah merugikan industri. Pihaknya juga ikut menjadi korban.

Bencana kebakaran sekarang ini merugikan semua pelaku usaha di sektor sawit baik langsung atau tidak langsung..

 perusahaan-perusahaan sawit yang mengelola lahan perkebunan sudah memenuhi standar operasi untuk mencegah dan memadamkan kebakaran.



Masalah kabut asap di Sumatera dan Kalimantan tengah menjadi sorotan. Meski dinilai cukup terlambat, namun pemerintah perlu mendapat apresiasi dari masyarakat.

Tentu masalah asap makin serius karena kita agak terlambat mengambil langkah. Namun , pembentukan satgas oleh pemerintah perlu kita apresiasi. Kita beri kesempatan untuk bertugas, yang penting satgas harus mampu mengatasi masalah kebakaran dalam jangka pendek, mencari faktor utama penyebab dan menegakkan hukum.

Pria yang menyelesaikan studi program doktoral di Jepang ini sempat berbagi kisah dirinya sempat mendapat aduan seputar kabut asap dari salah seorang warga negara Singapura yang ikut memberikan kuliah umum di Kangwon National University Korea. Menurutnya, pemerintah harus bisa segera mengambil langkah dan memperhatikan dampak asap yang sudah sampai ke negara-negara tetangga.

orang orang di singapura protes  karena mereka sangat terganggu dengan asap tersebut. Tentu yang penting kita perhatikan utamanya adalah rakyat kita, baik yang di Riau atau wilayah lain yang terkena dampak. Namun dampak yang sudah lintas negara ini mestinya mendapat perhatian pemerintah pusat.

Pemerintah pusat harus serius tangani masalah ini.


Seperti diketahui, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) telah membentuk satuan kerja (satgas) nasional untuk mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan meluas. Satgas ini bertugas mengendalikan kinerja posko keamanan hutan, termasuk upaya pemadaman api dari darat dan udara.

Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan melanda pulau Sumatera dan Kalimantan. Ada 5 wilayah yang terdampak kabut asap pekat, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi dan Riau.
Banyak pula korban yang menghirup asap tersebut salah satu nya balita atau anak masih berumur dibawah satu tahun yang sudah meninggal . bukan hanya itu disana Jdi terganggu pernapasan nya .dan menganggu aktivitas masyarakat disana.negara Negara yang wilayah nya dekat dengan Indonesia itu juga terganggu oleh asap nya tersebut .
tetapi dari Negara lain seperti Malaysia,singapura membantu Indonesia untuk memadamkan api darii kebakaran hutan tersebut.dan sampai sekarang pun masih banyak yangbelum di padamkan api nya . padahal pemerintah dan presiden sudah semaksimal mungkin untuk menyelesaikan kebakaran hutan tersebut .